

Penanganan dugaan kasus kekerasan seksual (KS) di internal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate menuai sorotan. Kritik tersebut mencuat dari unggahan di media sosial Facebook oleh akun bernama Semesta.
Dalam unggahan tersebut, sumber menyampaikan kekecewaan terhadap sikap organisasi yang dinilai tidak konsisten antara narasi publik dan tindakan internal.
Sebelumnya, HMI Cabang Ternate diketahui aktif menyuarakan sikap politik terkait berbagai kasus kekerasan seksual di ruang publik. Bahkan, satu bulan lalu, Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Ternate melalui akun resmi Instagram merilis siaran pers mengenai maraknya kasus kekerasan seksual di Ternate serta membuka program relawan bertajuk “Women’s Safety Investigation”.
Namun, kritik muncul ketika kasus serupa diduga terjadi di dalam internal organisasi tersebut. Hingga kini, laporan terkait dugaan pelaku yang merupakan kader HMI disebut telah berjalan selama kurang lebih dua bulan tanpa keputusan yang jelas.
“Dua bulan tanpa kepastian bukan lagi proses, tetapi pembiaran,” tulis akun tersebut. Ia juga menyoroti bahwa selama periode itu, terduga pelaku masih aktif dalam kegiatan organisasi, bahkan sempat dihadirkan sebagai pembicara dalam agenda resmi HMI.
Di sisi lain, korban disebut belum mendapatkan kepastian maupun rasa aman. Trauma, ketakutan, dan tekanan psikologis masih dialami selama proses yang dinilai berlarut-larut.
Kritik juga diarahkan kepada KOHATI Cabang Ternate yang dinilai belum menunjukkan sikap tegas terhadap kasus internal. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa kekerasan seksual tidak seharusnya dijadikan sekadar bahan kampanye, melainkan harus ditangani secara konsisten, termasuk di dalam tubuh organisasi sendiri.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari HMI Cabang Ternate maupun KOHATI Cabang Ternate terkait perkembangan penanganan kasus tersebut.
Sangat di sayangkan jika hal2 bertentangan dengan nilai keislaman terus di diamkan…. HMI kehilangan marwah