Orang-Orang Sederhana: Kesaksian Medis tentang Perampasan Ruang Hidup di Maluku Utara

Didiskusi Sastra Dalam Wajah Kultur Masyarakat Maluku Utara. Foto: Istimewa

Novel Orang-Orang Sederhana karya M. Sadli Umasangaji merekam kesaksian mendalam seorang tenaga medis yang bertugas di wilayah terpencil Maluku Utara. Pengalaman tersebut bermula dari desa-desa di Halmahera Timur hingga penugasan berikutnya di Halmahera Barat.

Dalam perjalanannya, Sadli menyaksikan berbagai persoalan sosial, terutama terkait eksploitasi lahan oleh perusahaan tambang. Ia menggambarkan bagaimana ruang hidup masyarakat secara perlahan “dirampas” atas nama pembangunan dan kebijakan pemerintah. Ironisnya, masyarakat setempat justru menjadi pekerja di tanah yang sebelumnya mereka miliki sendiri.

Kesaksian-kesaksian tersebut kemudian dihimpun menjadi sebuah karya sastra berbentuk novel. Proses penerbitannya turut mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui program Link Indonesia Raya.

Novel ini kemudian dibedah dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan pada Sabtu, 24 Juni 2026, di Asrama Haji, dengan tema “Sastra dalam Wajah Kultur Masyarakat Maluku Utara.” Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni sosiolog Herman Oesman dan Rafli Marwan.

Dalam pemaparannya, Herman Oesman mengkaji fenomena sastra Maluku Utara melalui perspektif sosiologi sastra. Mengacu pada pemikiran sosiolog Prancis, ia menegaskan bahwa sastra tidak dapat dipahami semata sebagai teks, melainkan harus dilihat sebagai fakta sosial yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Herman, yang juga penulis dua novel sosiologis Rempah Terakhir dan Pulau Terluka, menekankan pentingnya peran penulis dalam menyuarakan kritik sosial, terutama terhadap kondisi masyarakat yang kehilangan lahan dan ruang hidup. Ia juga mengingatkan bahwa proses menulis novel tidaklah sederhana, karena membutuhkan riset lapangan, pembiayaan, serta kedalaman bacaan.

“Untuk menjadi penulis yang andal, seseorang harus banyak membaca buku,” ungkapnya.

Sementara itu, Rafli Marwan membahas karakteristik sastra di Maluku Utara yang beragam. Ia menjelaskan bahwa para penulis di daerah ini memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, mulai dari puisi, cerita rakyat, cerpen, hingga novel.

Diskusi tersebut mendapat apresiasi luas dari para peserta. Kehadiran novel Orang-Orang Sederhana dinilai memperkaya referensi tentang kehidupan di desa-desa terpencil Maluku Utara, sekaligus menambah khazanah kesusastraan daerah.

Lebih dari itu, karya ini diharapkan menjadi motivasi bagi penulis muda untuk mengeksplorasi berbagai cerita dari Maluku Utara melalui beragam sudut pandang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya :