Akademisi Unkhair Minta Pemkab Halsel Ambil Sampel Air Madapolo, Diduga Algae Bloom Picu Kematian Ikan

Kondisi perairan pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara, yang berubah drastis jadi hijau dalam empat hari terakhir. Foto: Warga for Kadera.id

Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Dr. Muhammad Ridwan Lessy, mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera mengambil sampel air laut di pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara. Desakan itu muncul menyusul perubahan warna air menjadi hijau pekat yang disertai kematian ikan dan dugaan iritasi kulit pada sejumlah warga.

Ridwan menilai pengambilan sampel harus segera dilakukan agar penyebab perubahan kualitas air dapat dipastikan secara ilmiah. Menurut dia, pengujian tidak cukup hanya pada air laut, tetapi juga perlu mencakup ikan serta unsur lingkungan lain yang diduga ikut terpengaruh.

“Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan instansi terkait perlu segera melakukan pengujian yang lebih detail dengan mengumpulkan sampel air, ikan, serta unsur lingkungan lainnya,” kata Ridwan kepada media yang dikutip.

Ia menjelaskan, perubahan warna air laut menjadi hijau, munculnya bau menyengat, serta dugaan iritasi kulit merupakan gejala kompleks yang tidak bisa langsung disimpulkan tanpa analisis lapangan. Dari pengamatan visual, fenomena di pesisir Madapolo dan sejumlah desa lain di Pulau Obi, termasuk Laiwui, dinilai lebih mengarah pada algae bloom atau ledakan populasi alga.

Menurut Ridwan, kondisi tersebut umumnya dipicu oleh tingginya kandungan nutrien, terutama nitrogen dan fosfor, di perairan yang relatif tenang sehingga mempercepat pertumbuhan alga. “Alga bloom biasanya didominasi jenis alga hijau-biru seperti MicrocystisSpirulinaOscillatoria, dan Phormidium,” ujarnya.

Ia menambahkan, kombinasi gejala berupa perubahan warna air, bau menyengat, dan efek iritasi pada kulit lebih dekat dengan ledakan fitoplankton atau sianobakteri ketimbang sedimentasi laterit. Sedimen laterit, kata dia, umumnya hanya membuat air tampak cokelat kemerahan tanpa memunculkan gangguan dermatologis.

Ridwan menyebut ada sedikitnya tiga faktor yang dapat memicu algae bloom. Pertama, masuknya nutrien berlebih seperti nitrogen dan fosfor dari limbah pertanian, limbah domestik, atau aktivitas pertambangan. Kedua, kenaikan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim. Ketiga, proses upwelling yang membawa mineral dan nutrien dari dasar laut ke permukaan.

“Saat ini Indonesia, termasuk Maluku Utara, sedang berada pada fase El Niño yang cukup kuat. Kondisi ini meningkatkan suhu udara dan berpotensi memperparah pertumbuhan alga,” katanya.

Ia menegaskan, penyebab utama fenomena di Madapolo tidak bisa ditentukan hanya dari pengamatan visual, apalagi jika sudah disertai kematian ikan di keramba. Karena itu, analisis ilmiah harus mencakup parameter biologis, kimia, dan fisik agar sumber masalah dapat dipastikan.

Ridwan juga tidak menutup kemungkinan aktivitas pertambangan ikut memengaruhi kualitas perairan. Menurut dia, limpasan sedimen maupun air limbah tambang yang membawa nutrien dan logam berat dapat mempercepat terjadinya algae bloom sekaligus mengganggu ekosistem laut.

“Untuk kasus Madapolo, kombinasi nutrien dari aktivitas keramba, limpasan tambang, serta kondisi oseanografi lokal sangat mungkin memperkuat fenomena air hijau dan menyebabkan kematian ikan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Halmahera Selatan, Idris Ali, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat oleh media hingga berita ini diterbitkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya :