Diaspora Waigitang berencana menggelar pertemuan dengan para akademisi asal Waigitang, termasuk guru besar dan doktor, dalam waktu dekat. Agenda ini bertujuan menyatukan persepsi, mempererat silaturahmi, sekaligus membahas sejumlah riset strategis.
Pertemuan tersebut akan mengkaji eksistensi berbagai Um Soan (Soa), di antaranya Makamalongak, Sangaji, Imam, Waisamola, Hukum, Um Ngemnoli, Sobobe, Lailoyo, dan Dukon. Salah satu fokus utama riset ialah menelusuri apakah Soa atau Soan Sangaji merupakan jabatan struktural atau bagian dari marga (fam).
Selain itu, pertemuan ini juga akan membahas sejarah migrasi masyarakat Waigitang, khususnya perpindahan awal dari Desa Waigitang Makean Pulau. Tim riset akan menelusuri tujuan perpindahan tersebut, apakah ke Pulau Moti atau Desa Siko di Kecamatan Kayoa, serta mengkaji alasan pemilihan lokasi, termasuk kemungkinan perpindahan lanjutan ke Pulau Tameti dan wilayah lainnya.
Juru Bicara kegiatan, Arsad Sangaji—yang dikenal sebagai Kolano Waigitang—mengatakan pihaknya akan menggelar pertemuan ini pada Juni 2026. Panitia menyiapkan dua opsi lokasi, yakni Ngofagita di Halmahera Utara dan Waigitang Makean Pulau di Halmahera Selatan.
Ia menyebut, hingga kini pihaknya masih berkoordinasi dan berkonsultasi dengan berbagai pihak untuk menentukan waktu dan lokasi pelaksanaan.
“Kami masih berkoordinasi dan berkonsultasi dengan narasumber, sesepuh, dan keluarga besar Waigitang di Maluku Utara,” ujar Arsad, yang akrab disapa Caken.
Kegiatan ini akan diselenggarakan oleh Waigitang Diaspora Foundation, dengan dukungan dari Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangaji, serta sejumlah akademisi.
Arsad berharap pertemuan ini dapat menjadi momentum awal kebangkitan masyarakat Waigitang sekaligus menyemarakkan semangat Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei.