Bantah Klaim Hujan, Warga dan Aktivis Sebut Perubahan Warna Teluk Buli Diduga Akibat Sedimentasi dari Aktivitas PT. Feni

Dugaan pencemaran kali Kukuba di teluk buli, Halmahera Timur. Foto: Salawaku Institut (Sumber: Kadera)

Ringkasan Berita:

Klaim PT. Feni Haltim yang menyebut perubahan warna perairan Teluk Buli dipicu curah hujan tinggi dibantah warga dan aktivis lingkungan di Buli. 

Ketua Karang Taruna Buli Karya, M. Shuyuti Hi Adam, menegaskan bahwa warga menilai perusahaan tetap harus bertanggung jawab atas dugaan pencemaran yang terjadi di Kali Kukuba hingga pesisir Teluk Buli.

Dalam aksi dan pernyataannya, Shuyuti menyebut Karang Taruna Buli Karya mengugat dan menuntut PT. Feni Haltim atas dugaan pencemaran lingkungan di Kali Kukuba dan pantai pesisir Mabapura. Ia juga menyampaikan bahwa hasil pertemuan dengan perusahaan menunjukkan adanya komitmen penyedotan lumpur menggunakan geotube, yang menurutnya menjadi bukti bahwa persoalan sedimentasi memang diakui dan perlu segera ditangani.

“Kami dari Pengurus Karang Taruna Desa Buli Karya mengugat dan menuntut PT. Feni Haltim terkait dugaan pencemaran lingkungan di Kali Kukuba dan Pantai Pesisir Mabapura di Halmahera Timur,” ujar Shuyuti. 

Ia menambahkan, “PT. FHT siap menyelesaikan dalam beberapa hari ini penyedotan menggunakan geotube untuk membersihkan lumpur-lumpur yang mencemari Sungai Kukuba kemudian pesisir pantai.”

Shuyuti juga menjelaskan bahwa pada 2 Mei 2026 terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang membuat cekdam milik perusahaan meluap. Namun, bagi warga, penjelasan itu tidak cukup untuk meniadakan dugaan adanya kelalaian pengelolaan air dan sedimen di area proyek.

Aktivis lingkungan turut memperkuat kritik tersebut. Direktur Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (Latamla), Drs. Faiz Albaar, menilai limpasan air ke Kali Kukuba dipicu konstruksi check dam milik PT. Feni Haltim yang tidak sesuai peruntukannya dan tak mampu menahan debit air saat hujan deras.

Sementara itu, pegiat Salawaku Institut, M. Said Marsaoly, menyebut bagian hulu Kali Kukuba diduga tercemar akibat operasi PT. Feni Haltim dan subkontraktornya, PT. Buka Bumi Konstruksi.

Di laporan lain, kalangan mahasiswa dan pegiat lingkungan di Halmahera Timur juga menilai perubahan warna air di Teluk Buli menunjukkan adanya sedimentasi lumpur yang berdampak langsung pada pesisir dan aktivitas nelayan.

Mereka meminta pemerintah daerah serta instansi lingkungan turun tangan melakukan investigasi terbuka berbasis data lapangan.

Pihak PT. Feni sebelumnya menyatakan kondisi itu dipicu curah hujan tinggi dan mengaku telah menurunkan tim teknis serta tim lingkungan untuk menelusuri penyebabnya.

Meski demikian, warga dan aktivis menegaskan bahwa investigasi independen tetap diperlukan agar publik mengetahui sumber utama perubahan warna perairan Teluk Buli secara objektif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya :