Kali Kukuba, sungai yang menjadi nadi kehidupan biota laut di pesisir Teluk Buli, Halmahera Timur, berubah menjadi cokelat pekat dan dipenuhi lumpur tebal. Dugaan pencemaran akibat aktivitas pembangunan infrastruktur pabrik baterai kendaraan listrik oleh PT. Feni Halmahera Timur (PT. FHT) memicu kemarahan warga, mahasiswa, aktivis lingkungan, dan sorotan keras dari Pemerintah Daerah.
Kali Kukuba terletak di Desa Buli Asal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Sejak Sabtu, 2 Mei 2026, air sungai berubah drastis dari biru jernih menjadi cokelat pekat, dengan sedimentasi lumpur tebal yang menutupi aliran sungai hingga muara di Teluk Buli.
M. Said Marsaoly, Ketua Salawaku Institut, yang pertama kali melaporkan kejadian ini menyebut, “Pencemaran di bagian hulu sungai ini mengancam ekosistem laut di muara.”
Ia menjelaskan bahwa di wilayah hulu Kali Kukuba saat ini tengah berlangsung pembangunan infrastruktur listrik untuk mendukung operasional pabrik baterai kendaraan listrik oleh PT. Feni bersama subkontraktornya, PT. Buka Bumi Konstruksi. Aktivitas proyek tersebut diduga kuat menjadi penyebab meningkatnya sedimentasi yang mencemari aliran sungai.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Maluku Utara, Halim Muhammad, mengatakan pemerintah provinsi tidak akan tinggal diam.
“Paling tidak sudah ada upaya yang dilakukan, baik dari Pemkab Haltim maupun Pemprov Maluku Utara. Dari provinsi, kami akan menjalankan fungsi pengawasan dan memberikan masukan terkait langkah-langkah penanganan,” ujar Halim di Ternate, Kamis (7/5/2026).
Ia menambahkan pihaknya telah menginstruksikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk segera menurunkan tim guna melakukan peninjauan langsung di lapangan.
Sementara akademisi kehutanan Universitas Khairun, Much. Hidayah Marasabessy, menilai kondisi Kali Kukuba yang diduga tercemar merupakan fenómena gunung es dari persoalan pengelolaan pertambangan nikel di Pulau Halmahera.
“Kondisi di Kali Kukuba ini sebenarnya fenomena gunung es dari tata kelola pertambangan nikel, terutama di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah,” kata Hidayah.
Menurut dia, kerusakan terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan melemahnya daya dukung daerah aliran sungai (DAS) dari hulu hingga muara.