Debit Air Baku Mulai Turun, Perumda Ake Gaale Waspadai Kemarau hingga Akhir Tahun

Ilustrasi air mati. Foto (Istimewa)

Perumda Air Minum Ake Gaale Kota Ternate mulai menyesuaikan pola produksi dan distribusi air bersih menyusul penurunan debit pada sejumlah sumber air akibat musim kemarau. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menghentikan sementara pompa di beberapa titik serta menerapkan sistem pengaliran bergilir di wilayah terdampak.

Kepala Bagian Perencanaan dan Produksi Perumda Ake Gaale, Bambang Arsudiadi, mengatakan total ketersediaan air baku saat ini tercatat sekitar 540 liter per detik, atau setara kapasitas sekitar 1,4 juta meter kubik per bulan.

Sementara kebutuhan air masyarakat berada pada kisaran 390 liter per detik, dengan kebutuhan bulanan sekitar 1,1 juta meter kubik. Meski secara total kapasitas pasokan masih berada di atas kebutuhan, penurunan debit pada sumber tertentu tetap memengaruhi kapasitas produksi instalasi.

“Cuaca kering akibat kemarau menurunkan volume debit air baku tanah yang langsung berdampak pada kapasitas produksi di sejumlah instalasi,” kata Bambang memalui media yang dikutip.

Sumber Permukaan Paling Terdampak

Bambang menjelaskan, pasokan Perumda Ake Gaale sebagian besar bersumber dari air tanah melalui sumur dalam. Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan sumber air permukaan, antara lain sistem Ake Gaale dan Danau Ngade.

Menurut dia, air tanah cenderung lebih stabil dibandingkan sumber air permukaan. Namun, kemarau yang berlangsung lama dapat menekan cadangan air tanah secara bertahap.

Dampak paling cepat, kata Bambang, biasanya terjadi pada sumber air permukaan, termasuk sistem Ake Gaale dan kawasan tangkapan air Danau Ngade.

“Ini akan terjadi jika tanpa adanya tambahan pasokan atau konservasi ketat. Cadangan operasional pada titik-titik sumur produksi berisiko mengalami penurunan tekanan dan memaksa optimalisasi kapasitas pompa secara ketat,” ujarnya.

Perumda Ake Gaale memperkirakan risiko penurunan air tanah akan semakin besar apabila kondisi kemarau ekstrem berlangsung hingga akhir 2026. Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap stabilitas pasokan air bagi pelanggan, terutama pada wilayah yang bergantung pada sumber dengan debit terbatas.

Produksi Disesuaikan, Kualitas Dipantau

Bambang mengatakan penanganan musim kemarau tidak hanya berfokus pada jumlah air yang tersedia, tetapi juga pada kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan.

Perumda Ake Gaale melakukan pemantauan kualitas air secara berkala setiap minggu. Penyesuaian operasional pompa dan pengaliran bergilir disebut dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk menjaga pasokan tetap terkendali serta mengurangi risiko gangguan kualitas air.

“Ini dilakukan sebagai wujud komitmen utama dalam melindungi kesehatan serta keselamatan masyarakat,” tandasnya.

Kebijakan pengaliran bergilir berpotensi memengaruhi jadwal distribusi bagi sebagian pelanggan. Karena itu, Perumda Ake Gaale perlu menyampaikan informasi yang jelas mengenai wilayah terdampak, waktu pengaliran, serta langkah pengaduan jika terjadi gangguan berkepanjangan.

Di tengah kemarau, upaya menjaga sumber air juga tidak cukup hanya melalui pengaturan produksi. Perlindungan daerah tangkapan air, pengendalian pengambilan air tanah, dan penghematan penggunaan air oleh pelanggan menjadi faktor penting agar cadangan air Ternate tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya :